Banjir Terus Landa Perumahan Jatimulya Jaya
Banjir merupakan fenomena yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, khusunya Jabodetabek. Dapat dilihat hampir setiap hujan deras datang, banjir pun mulai menggenangi setiap kawasan yang merupakan langganan banjir. Banjir yang dahulunya merupakan siklus tahunan kini berubah menjadi siklus bulanan. Bila musim hujan datang, warga pun berantisipasi menghadapi banjir.
Banyak faktor mengapa banjir dapat terjadi antara lain, tidak adanya lahan untuk penyerapan air atau kawasan hijau, sungai yang kotor akibat sampah, serta pemanasan global yang terjadi saat ini. Pemanasan global merupakan peningkatan suhu udara secara mengglobal. Gas-gas kimia yang terkandung dalam polusi dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Zat-zat yang terkandung dalam polusi di antaranya HC, CO, Nox, dan TSP (debu). Zat-zat kimia dalam polusi itulah yang menyebabkan adanya pemanasan atau kenaikan suhu dan cuaca yang tidak teratur siklusnya. Seperti halnya siklus hujan yang tidak teratur dan dapat menigkat yang mengakibatkan banjir.
Bekasi merupakan salah satu daerah yang sering mengalami banjir. Kawasan perumahan di bantaran Kali Bekasi kerap tergenang banjir apabila Kali Bekasi itu yang berhulu dari dua sungai di Kabupaten Bogor yakni Kali Cikeas dan Kali Cileungsi meluap. Salah satu kawasan langganan banjir di Bekasi adalah Perumahan Jatimulya Jaya, Bekasi Timur. Perumahan ini merupakan salah satu perumahan yang bila hujan deras datang, dipastikan banjir pun menggenang kawasan itu. Ketinggian air dapat mencapai satu lutut orang dewasa. Menurut Fauzi, Banjir mulai terasa parah ketika empang dan rawa wilayah itu mulai dibangun perumahan-perumahan baru. “Ini baru terasa sejak lima tahun lalu tapi sekarang sudah lebih parah”, kata pria yang berdomisili di Blok C No 251. Kondisi ini diperparah dengan kecilnya saluran pembuangan yang berada di bawah tol Bekasi Timur. Padahal menurutnya, semua air yang berasal dari Perumahan Narogong, Pengasinan, dan beberapa perumahan lain semua masuk kesana. Fauzi menjelaskan, kondisi terparah berada di Blok A perumahan itu. Pasalnya, “Disana semua air lewat,” tutur pria berkulit sawo matang itu.
Perumahan yang berada di dekat pintu Tol Bekasi Timur itu memang sering mengalami kebanjiran akibat hujan deras yang turun. Jalan Nusantara, Blok A, Perumahan Jatimulya Jaya merupakan salah satu yang terparah mengalami banjir. Jika di Blok lain mencapai satu lutut orang dewasa, disana bisa mencapai satu dada orang dewasa. Bahkan banjir juga menggenangi Jalan Raya Jatimulya yang merupakan jalan utama menuju pintu Tol Bekasi timur. Banjir yang menggenangi jalan raya itu dapat mencapai satu lutut orang dewasa. Akibatnya dapat melumpuhkan transportasi bahkan aktivitas warga disana. Mobil, motor, atau bahkan angkot K-19 jurusan Mutiara Gading, Jatimulya ke Terminal Bekasi Timur pun dapat terhambat.
Buruknya saluran air dan drainase menyebabkan air dan sungai meluber menjadi banjir dan menggenagi beberapa kawasan maupun jalan. Saluran air di Jalan Nusantara, Jatimulya, Kecamatan tambun, misalnya, sangat sempit dan dangkal sehingga tidak dapat menampung air. Saluran yang merupakan sambungan dari Perumahan Pondok Hijau Permai, Perumahan Rawalumbu itu juga penuh sampah. Hal itu merupkan perbuatan warga sekitar yang tidak bertanggung jawab dan tidak peduli akan lingkungannya. Warga RW 15, Perumahan Jatimulya Jaya mengambil suatu solusi dengan cara patungan untuk membeli jaring-jaring guna menahan dan menyaring sampah. “Saluran disinikan menyempit akibat banyaknya bangunan yang berdiri diatas saluran, seperti wartel, warung akibatnya mengurangi lebar saluran yang ada,”papar Fika warga RW 15 Jatimulya. Selain di Jalan Nusantara, saluran air yang merupakan buangan dari Perumahan Puri Hutama, di Jalan Rambutan, Perumahan Jatimulya juga meluber dan menggenangi jalan dan masuk ke dalam rumah warga. Menurut warga setempat, jika hujan deras, air bisa menggenang hingga tiga hari.
Selain buruknya saluran air (drainase), tidak adanya daerah atau kawasan hijau merupakan salah satu penyebab terjadinya banjir di sekitar Perumahan Jatimulya Jaya. Kawasan hijau berfungsi untuk menyerap air bila hujan turun. Saat ini kawasan hijau sudah sangat minim dikarenakan banyakanya perumahan-perumahan baru bermunculan. Kawasan yang seharusnya digunakan sebagai penyerapan malah digunakan untuk pemukiman. Banyak Pengembang atau developer tidak patuh dalam membangun fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum). Bahkan dalam membangun sebuah perumahan, pengembang atau developer lebih mementingkan keuntungan yang didapat tetapi tidak mementingkan dimana ia membangun suatu perumahan tersebut atau membangunnya diatas kawasan hijau yang menjadi tempat penyerapan air. Selain itu pengembang lebih mementingkan taman atau rumah yang estetis ketimbang membangun saluran pembuangan air yang terencana dan terpadu sehingga perumahan yang dibangun pengembang itu akibatnya terkena dampak banjir juga.
Di samping itu, mudahnya izin yang diberikan Dinas Tata Kota Bekasi dalam mendirikan suatu perumahan bagi pengembang. Tata ruang yang seharusnya tertata baik menjadi tidak beres dan berantakan dan dijadikan suatu usaha mencari keuntungan semata dari pengembang atau developer. Hal ini juga merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya banjir. Banjir di Bekasi tidak hanya menggenangi kawasan perumahan menengah ke bawah, seperti Perumahan Jatimulya Jaya tetapi juga melanda kawasan perumahan elit, seperti Kemang Pratama Bekasi. Infrastruktur yang buruklah awal dari semua itu. Banyak hal yang perlu dibenahi dan dilakukan untuk mengatasi banjir yang semakin tahun semakin parah. Perlu adanya penanganan dari pemerintah dan masyarakat setempat dalam mengatasi banjir.
Menciptakan dan memperbaiki infrastruktur yang ada. Termasuk sistem drainase dan lingkungan yang baik. Sistem drainase yang ada diperbaiki dan dijaga agar air yang tertampung dan mengalir didalamnya terjaga sesuai dengan kapasitasnya. Pemerintah setempat juga harus sigap dalam melakukan hal itu. Jangan hanya memikirkan keuntungan semata. Selain itu meminimalisir pembangunan perumahan-perumahan baru tanpa sistem drainase yang terencana dan terpadu. Karena drainase merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dari perencanaan pembanguanan perumahan. Selain itu pembangunan perumahan-perumahan baru juga dapat mengurangi lahan yang menjadi kawasan hijau atau daerah resapan air. Di sekitar Perumahan Jatimulya Jaya banyak terdapat perumahan-perumahan baru, seperti Jatimulya Regency, Mutiara Gading Timur, dan Kampung Milano. Untuk itu, perlu adanya turun tangan pemerintah daerah untuk membatasi pengembang dalam membangun perumahan-perumahan baru.
Menjaga kebersihan lingkungan merupakan hal terpenting juga yang harus dilakukan dan diterapkan oleh warga setempat, Seperti halnya, tidak membuang sampah yang tidak pada tempatnya. Membuang sampah ke sungai dapat menyebabkan banjir. Untuk itu, terapkan pola hidup bersih dan sayangilah lingkungan sekitar kita.
Nama : Dieta Kusumanigtyas
NRP : 206.612.127

1 Komentar:
betul sekali... saya setuju jika banjir itu bukan salah dari alam. jelas kesalahan ada pada manusia nya yang mengelola alam.. selain itu izin pembebasan dan penggunaan tanah yang terlalu mudah jika ada pelicin yang besar.. mereka sebetulnya yang harus bertanggung jawab, wargayang jadi korbannya.. sedikit aja ada lahan koson, pengembang langsung seperti singa berburu mangsa, hingga akhir nya lahan lahan disekitr nya di buru juga bahkan dengan paksa untuk di jadikan proyek perumahan, jika pemda lebih ketat dalam mengeluarkan ijin, terutma dina tata ruang lebih cermat dalam memilih ruang yang effektif untuk dijadikan proyek pembangunan insya alloh masalah banjir tidak akan menjadi momok utama
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda