Jumat, 28 November 2008

Novani Dwi Sesari
206.612.124

BANJIR, Ya Udah Pasrah

Siang itu awan hitam menyelimuti langit-langit di Jakarta. Disusul rintik hujan yang kian membasahi aspal jalan raya di Kebayoran Baru. Membuat sebagian masyarakat enggan untuk melanjutkan aktifitasnya.

Setiap tahunnya Jakarta selalu direndam banjir. Entah itu karena hujan atau banjir kiriman. 21 sungai yang mengalir di Jakarta, 13 berpotensi menimbulkan banjir, antara lain Sungai Cipinang, Cakung, Sunter, Krukut, Grogol, dan Angke. Dan tiga sungai besar memberikan kontribusi banjir terbesar di wilayah Jabodetabek, yakni Ciliwung, Cisadane, dan Kali Bekasi.

Sungai Krukut salah satunya.

Warung makan dan kios pengisian pulsa yang terletak disamping sungai itu sepi. Hanya ada Agus si tukang ojek sedang bersantai disana. Ibu muda yang punya kios terlihat asyik mengobrol dengan yang punya warung bicara seputar banjir yang kemarin melanda kawasan rumahnya. Petogoan

Banjir kerap kali mampir ke kawasan ini. Sungai Krukut yang berada tepat di depan SMA Tarakanita meluap jika hujan datang. Warga Jl.Pulo Raya sudah terbiasa dengan hal ini. “ Emang karena udah kebiasaan banjir jadi kita udah biasa aja”, kata Agus sambil tersenyum..

Kawasan ini mulai banjir ketika awal tahun 1990-an, hal ini diduga terjadi karena pesatnya pembangunan di kawasan itu. Belum lagi sampah dan Lumpur menggenangi sungai ini. Pun air pernah mencapai atap rumah warga.




Penyempitan lahan sungai, sampah yang mengapung. Adalah sebagian dari faktor penyebab terjadinya banjir. Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya menjadikan Jakarta tak pernah absen banjir.

Jarang ada korban yang meninggal dalam bencana ini. “Alhamdulilah sih ga pernah ada yang hanyut ato tenggelam, paling waktu itu pernah ada, itu juga udah kakek-kakek lagi sakit”, kata Agus sambil sesekali mengecek telepon genggam merk Nokia tipe 3315 miliknya.

Ketika disinggung mengenai penyakit yang biasa menyerang jika banjir datang. Lelaki kelahiran tahun 1974 ini berkata, “gak sampe parah, paling cuma gatel-gatel doank”.

Meskipun tidak hujan, banjir kadang datang. “Pernah waktu itu ga ujan tapi pas paginya udah banjir gede, ini sih biasanya banjir kiriman dari Bogor”, ujar lelaki kelahiran 14 Agustus ini. Banjir kiriman warnanya cokelat, tapi kalau yang banjir biasa warnanya hitam karena air yang bercampur dengan lumpur yang mengenap di sungai.

Bau yang menyengat keluar dari sungai ini. Sampah-sampah yang memenuhi sungai pun tak juga dikeruk. “Biasanya petugas mengeruk kali selalu pada musim hujan, jadi penyelesaiannya lambat, malah timbul masalah baru misalnya jadi becek”, kata Agus.

Meskipun hal ini kerap terjadi namun warga tetap setia menempati kawasan ini. “Tempatnya strategis, terus mau pindah kemana lagi” , kata Agus Muhamad Rangkuti yang sudah 18 thn tinggal disini

Warga-warga yang terkena banjir tidak selalu di evakuasi. “klo untuk banjir gede pasti di evakuasi, tapi klo banjir kecil biasa ga ada evakuasi”, ujar Agus. Pengevakuasian biasanya dilakukan di tempat yang tidak terkena banjir, lapangan bola daerah rawa bangka misalnya.

Mereka tidak lagi direpotkan dengan masalah harta benda yang masih tertinggal dirumah. “Klo disini rata-rata warga udah percaya sama satpam atau penjaga RT”, ujar Agus.

Lambatnya penanganan petugas dalam mengeruk kali, dan pembuatan dinding beton kerap disesalkan oleh Agus. Meskipun telah berkali-kali warga mengeluhkan hal ini, namun tetap saja pengantisipasian baru dimulai ketika musim hujan datang.

Diluar sana rintik hujan tak juga berhenti. Tak henti pula harapan Agus agar kawasan rumahnya itu terhindar dari banjir.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda