Jumat, 28 November 2008

HARTATI
206.612.154
BANJIR DATANG,,PETOGOAN Siap Menghadang
Gerimis mengguyur petang itu, di daerah Pulo Raya, yang termasuk ke dalam wilayah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tepatnya di Petogogan, daerah yang kerap kali disambangi oleh banjir, jika musim penghujan telah tiba. Petogogan sendiri terdapat enam RW, wilayah yang menjadi langganan banjir yaitu dari RW 01,02 dan 03, dengan jumlah penduduk sekitar 11 ribu jiwa. Di sore itu di depan bilik warung kopi yang terletak di depan Sekolah Menengah Atas Tarakanita, yang membatasi wilayah tersebut dengan wilayah Kampung Sawah yang juga terkena imbas banjir. Terdapat tiga orang dewasa yang terdiri dari satu laki-laki dan selebihnya wanita sedang asyik berbincang mengenai musim penghujan yang akan mendera di pertengahan November ini, begitulah sekiranya yang dilansir oleh Badan Meteorologi Dan Geofisika dikutip dari Tempo interaktif.

Warung tersebut berbatasan dengan aliran kali krukut, salah satu kali dari 13 sungai yang menbelah Jakarta, dan berpotensi menimbulkan banjir. Dengan ber dindingkan beton di sisi kali tersebut yang dibangun oleh pemda setempat untuk menghadang luapan air pada saat banjir. Agus salah seorang yang berada di warung tersebut menuturkan, awal mula banjir menerpa wilayah ini pada saat tahun ‘90an yaitu ketika diduga terjadi karena pesatnya pembangunan dikawasan tersebut, dan danau yang berguna untuk menampung air dikawasan Wijaya sekarang disulap menjadi lapangan Golf “ tutur pria yang bernama lengkap Agus Muhamad Fuazi Rangkuti. Lanjutnya lagi pada tahun ’97 banjir datang menghadang dengan ketinggian lebih dari 2 meter, dan hal tersebut berlanjut sampai sekarang “ sambungnya lagi sambil menghembuskan kepulan asap Djisamsoenya ke udara.



Dan jika banjir telah menghadang, warga sekitar telah bisa memprediksinya, karena sudah kebiasaan, jadi masyarakat sendiri sudah bisa merasakan kapan banjir itu datang. Maka perasaan was-was sudah tak terlalu dirasakan lagi oleh masyarakat setempat. Kalau banjir datang, yaudah pasrah aja” ujarnya sambil tertawa lepas. Warga disini pun sepertinya sudah tidak terlalu kaget dan mempunyai antisipasi jika sewaktu-waktu banjir datang. Kami tidak punya antisipasi karena sudah pasrah aja de’ sambungnya. Dan ketika ditanyakan kenapa tidak pindah ke kawasan bebas banjir saja, pria berusia 34 tahun ini mengimbuhkan “kalau disini tempatnya strategis, selain itu bingung mau pindah kemana lagi”. Kecintaannya pada daerah ini, membuatnya enggan untuk hijrah ketempat lain, meskipun ada wilayah di sudut kota Jakarta yang bebas dari banjir.

Sebab-sebab banjir di daerah ini memang kerap kali di faktorkan oleh hujan kiriman dari bogor, serta penyempitan lahan sungai akibat banyaknya rumah-rumah liar di bantaran kali, sehingga membuat kali tersebut menjadi dangkal, dan tidak bisa menahan debit air hujan. Belum lagi masalah sampah yang menggenangi kali, akibat tradisi masyarakat yang selalu membuang sampah ke sungai. Hal tersebut dijumpai oleh penulis ketika menengok suasana kali krukut yang tidak jauh dari warung tempat kami berbincang tadi.

Seorang warga yang tinggal di bantaran kali tersebut dengan seenaknya melemparkan sampah tersebut ke kali dan langsung ngeloyor pergi tanpa meninggalkan jejak rasa bersalah. Hal tersebut menjadi polemic yang ada di tengah-tengah masyarakat, dan nanti ketika banjir tiba, selalu saja hujan dan alam yang disalahkan. Masyarakat yang seperti ini yang selalu tidak bisa instropeksi diri.

Banjir yang menerpa, ketika dituturkan oleh Agus biasanya bisa banjir local maupun banjir kiriman. Kalau banjir local, masyarakat sekitar sudah bisa menebaknya dari warna air tersebut yang berwarna hitam karena kandungan Lumpur dari endapan kali dan biasanya hanya setinggi 50 cm atau setinggi paha orang dewasa. Lain halnya jika hujan tersebut kiriman dari Bogor dan seringkali mengakibatkan banjir besar, air tersebut berwarna coklat dan mencapai ketinggian melebihi atap rumah, seperti banjir pada saat 2007 lalu dan mengakibatkan aktivitas warga lumpuh total” seloroh pria yang sudah 18 tahun mendiami wilayah ini. Dan membuat warga harus di evakuasi kedaerah yang tidak banjir seperti di lapangan bola yang berada di kawasan bangka, daerah yang dekat dengan Pulo.

Ketika disinggung adakah peran pemerintah dalam memperbaiki infrastruktur di daerah tersebut, pria kelahiran Medan ini menuturkan “bahwa ada pembangunan namun kerap kali dikerjakan pada saat musim penghujan , seperti pengerukan kali, dan pembangunan drainase air, sehingga menyebabkan becek, jadi seperti menambah permasalahan baru “ujarnya

Tengok saja, permukaan kali krukut tersebut, penuh dengan Lumpur yang tebal serta mengendap. Di khawatirkan oleh masyarakat sekitar, nanti bila banjir datang aliran kali tidak akan jalan karena terhalang oleh Lumpur tadi. “Namun untuk sekarang ini belum dilakukan pengerukan kali” terangnya lagi. Hal tersebut dinilai sangat lamban atas kinerja pemerintah dalam menanggulangi masalah banjir yang kerap terjadi di wilayah tersebut. Dan terkesan bahwa pemerintah baru akan tergerak apabila banjir sudah menyerbu.

Keluhan-keluhan masyarakat belum sepenuhnya di tanggapi serius oleh pemerintah. Hal tersebut membuat masyarakat seperti gregetan atas tingkah pola pemerintah. Namun warga selalu berharap agar pemerintah dapat memperbaiki fasilitas yang diharapkan dapat mengatasi masalah banjir yang sering kali menerpa didaerah mereka. Harapan Agus maupun warga masyarakat lain sama, yaitu agar pemerintah bisa secepatnya mengatasi permasalahan banjir di wilayah tempat tinggal mereka, yang sangat mereka cintai ini. Semoga harapan mereka dapat terwujud seiring dengan berakhirnya perbincangan kami yang harus dipisahkan oleh waktu yang semakin menyempit.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda