Banjir Meresahkan Warga LAGI !
Bulan Oktober sampai November adalah bulan langganan datangnya banjir bagi kota Jakarta. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi pada bulan – bulan tersebut. Banjir yang sudah biasa terjadi secara rutin tiap tahun, belum bisa dihindarkan, bahkan bagi sebagian para ahli tiap tahun banjir yang terjadi di kota Jakarta semakin parah. Yang lebih parah terjadi pada bulan February tahun 2007. Air menguap yang menyebabkan kota Jakarta terendam mencapai 8 meter. “Pada bulan February tahun 2007 air menguap mencapai ketinggian lebih dari 750 cm, dapat dikatakan Jakarta tenggelam”, kata Parjono salah satu petugas pintu air Manggarai.
Persiapan “menyambut” datangnya banjir pada bulan ini harus dipersiapkan secara bersama – sama., baik dari pihak pemerintah maupun dari pihak masyarakat. Pemerintah sebaiknya lebih selektif dalam permasalahan tata letak kota di Jakarta. Sebab akhir – akhir ini penyebab banjir yang paling fatal adalah tata letak kota yang tidak baik. Bangunan – bangunan serta perumahan penduduk yang didirikan tidak berdasarkan syarat tata letak kota yang baik. Ini menyebabkan air yang mengalir tidak berjalan sebagaimana mestinya akibat penataan yang kurang baik. Pemerintah juga harus berani mengambil sikap yang tegas kepada orang – orang yang dengan sengaja membuang sampah di kali. Jika hal ini dibiarkan terjadi, maka air tidak akan mengalir dengan baik karena tersendat oleh tumpukan sampah. Tumpukan sampah juga akan membuat air kali menjadi kotor dan dapat meyebarkan wabah penyakit seperti muntaber, demam berdarah yang diakibatkan oleh aliran air yang tergenang.
Sebagai contoh, banjir terjadi di sepanjang Jalan Gandul Raya kelurahan Limo kecamatan Depok Jakarta Selatan. Di sepanjang jalan ini, terdapat kali yang aliran airnya langsung terhubung dari kota Bogor. Sebagaimana kita ketahui kota Bogor terkenal dengan curah hujannya yang sangat tinggi sehigga jumlah air yang banyak itu “dikirim” ke daerah Gandul Raya yang mengakibatkan banjir. Itu adalah salah satu penyebab terjadinya banjir di sepanjang jalan Raya Gandul. “Banjir di sini sering terjadi karena kiriman air dari Bogor yang sangat banyak”, kata sealah seorang warga yang tinggal di daerah Gandul Raya. Penyebab lainnya adalah volume sampah yang sangat banyak. Akibatnya air tidak mengalir sebagaimana mestinya karena disebabkan karena tersendatnya aliran air oleh tumpukan sampah. Sampah ini berasal dari sampah rumah tangga yang dengan sengaja dibuang ke kali. Misalnya seperti perumahan – perumahan setempat yang kotorannya sengaja di buang ke kali. Ada juga pedagang – pedagang kaki lima di sepanjang pinggiran kali yang membuang sampah ke kali. Banjir diperparah karena lebar kali yang dipersempit karena adanya perluasan jalan di sepanjang jalan Raya Gandul. Pelebaran jalan ini baru dijalankan sejak tahun 2000 disertai dengan peninggian jalan agar setara dengan tinggi kali. Sebab sebelumnya tinggi jalan lebih rendah dibanding dengan tinggi kali. Tetapi pada saat itu tidak pernah terjadi banjir sebab lebar kali yang belum dipersempit. Sementara itu, di sepanjang kali tidak ada daerah resapan yang dapat mengurangi volume air.
Akibat banjir di daerah tersebut, warga setempat terganggu dalam menjalankan aktifitas seperti untuk pergi ke kantor harus melewati jalan alternatif lain yang jaraknya cukup jauh, terlebih lagi dengan bau yang ditimbulkan oleh air dan sampah. Jalan di sekitar kali juga rusak yang mengakibatkan jalanan macet, khususnya pada pagi hari saat orang – orang sekitar hendak untuk melakukan aktifitas seperti pergi ke kantor, ke sekolah dan lain sebagainya. Juga pada malam hari saat orang – orang pulang dari aktifitasnya. Pada saat banjir terjadi di daerah tersebut, pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar kali, tidak berjualan untuk sementara sampai air reda. Angkutan umum yang melintas di daerah tersebut juga harus menggunakan jalan lain yang jaraknya cukup jauh untuk menghindari banjir. Terdapat kampus imigrasi di daerah tersebut, kampus imigrasi ini juga mendapat imbas dari banjir antara lain hampir sebagian dari kampus tersebut tergenang air. Baunya juga sangat menyengat sampai kedalam kampus. Perumahan – perumahan dan ruko – ruko disepanjang jalan Raya Gandul juga terganggu akibat bau yang ditimbulkan dari kali tersebut.
Upaya yang sudah dilakukan oleh warga sekitar untuk memperkecil kemungkinan banjir antara lain adalah mengangkat sampah yang menyumbat aliran air. Karena jumlah sampah yang sangat banyak, warga harus membersihkannya setiap hari. Upaya lainnya adalah memasang papan pengumuman yang berisi tentang larangan untuk membuang sampah ke kali. Tapi upaya yang satu ini kurang maksimal, sebab masih ada saja orang yang dengan sengaja membuang sampah ke kali bahkan di bawah tiang papan tersebut masih terdapat banyak sampah yang berserakan. Warga setempat juga bergotong – royong untuk mengeruk kali agar kedalamannya lebih dalam. Walaupun pada bulan ini curah hujan di daerah Gandul Raya tidak terlalu tinggi, tetapi “kiriman” air dari Bogor sangat banyak. Hal ini mengakibatkan meluapnya air di sepanjang Jalan Raya Gandul.
Banjir paling parah yang pernah terjadi di daerah tersebut tingginya hanya sebetis orang dewasa tetapi hal ini mengakibatkan warga harus membereskan peralatan dirumahnya agar tidak terkena banjir. “Banjir paling parah sempat terjadi pada tahun 2002, ketinggian air mencapai betis orang dewasa”, kata salah seorang warga di daerah Gandul Raya. Pada malam hari warga susah tidur karena bau airnya yang sangat menyengat. Tetapi warga setempat tidak ada yang mengungsi ke tempat lain karena memang tidak ada tempat yang disediakan oleh pemerintah untuk menampung warga saat banjir datang.
Warga sekitar memilih untuk menetap karena sebagian besar dari warga tersebut adalah pendatang dari luar daerah yang tidak memiliki tempat tinggal selain di daerah tersebut. Warga berharap kesadaran dari warga sekitar untuk tidak membuang sampah ke kali dan selalu menjaga lingkungan. Pemerintah kota Depok juga dinilai kurang tegas dalam menanggulangi masalah ini, belum ada tindakan dari pemerintah yang dapat mengurangi banjir di daerah tersebut. Warga berencana untuk melaporkan keluhan ini ke pemerintah kota Depok agar dapat ditemukan jalan keluar dari permasalah banjir yang selalu terjadi secara rutin tiap tahun ini.
Penulis : Muh.Tofan Permana
NRP : 206 612 091

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda