Jumat, 28 November 2008

MELUAP SETIAP TAHUN

Saat musim penghujan tiba, warga Jl. Haji Ipin selalu mengalami musibah kebanjiran. Ketinggian air sungai Grogol yang meluap kepemukiman warga mencapai 3 meter setiap tahunya.

Wanita berpakaian serba hijau itu sedang berdiri di depan halaman Sekolah Keperawatan YPDR. Itu Iis, Salah satu warga Jl. Haji Ipin yang berprofesi sebagai Guru TK di Komplek Angkatan laut, Cilandak. Ketika daerahnya dilanda banjir saat musim penghujan, Iis bersama keluarganya setiap tahun ikut mengungsi ketempat yang lebih aman dari banjir tersebut. Daerah tersebut memang selalu langganan banjir setiap tahun, banjir itu di akibatkan meluapnya sungai Grogol yang melintasi Jl. Haji Ipin.
Saat hujan lebat tanggal 17 November lalu, air kali Grogol meluap ke pemukiman warga dari jam 3 sore, sampai setengah meter dan baru surut setelah jam 7 pagi. Banjir terparah pernah di alami warga setempat bulan Februari 2007, Air kali yang meluap ke pemukiman warga RT 04/RW 01 mencapai 4 meter. Rumah warga yang tepat berada di pinggir kali, hampir sepenuhnya terendam banjir pada saat itu. Tempat tinggal Iis yang berada di Gang Wibawa pun tidak luput dari banjir, ”Saya dan suami saya buru-buru ngungsi waktu itu” kata Iis. Tembok pembatas antara komplek Angkatan Laut dengan pemukiman warga pun ikut rubuh karena derasnya air luapan kali.
Kali Grogol tersebut tepat bereada di bawah dua sisi jalan yang menurun, sehingga air yang mengalir akan meluap membanjiri daerah yang lebih rendah. Ukuran kali Grogol cukup besar, lebar 5 meter dan kedalaman mencapai 3 meter. Namun karena banyaknya sampah yang menyumbat arus air dan kiriman air dari pintu air Bogor dan depok menyebabkan sering terjadi banjir di daerah itu. Tidak jarang pula terjadi banjir, padahal hujan hanya gerimis di daerah itu. Ini di sebabkan kiriman air dari pintu air Bogor dan Depok.
Sebuah Toko Bangunan dan lahan kosong yang cukup besar di jadikan posko pengungsian korban banjir oleh warga. Toko bangunan dan lahan kosong itu berada di dataran yang lebih tinggi,sebelah kanan jalan dari arah Pondok Labu. Karena tidak terkena banjir, itu sebabnya tempat itu di pakai sebagai posko pengungsian korban banjir.
AL-Izar, salah satu sekolah swasta yang selalu memberikan bantuan secara langsung kepada para korban banjir di Jl. Haji Ipin. Bantuan tersebut berupa Mie instan,selimut,pakaian dan obat-obatan. Sekolah itu berada di Jl. Pondok Labu, tidak jauh dari Tempat korban banjir. Ada pula bantuan untuk korban banjir yang tidak tepat pendistrubusiannya dan hilang begitu saja tanpa sebab. Masyarakat sekitar menghimbau, bila ada bantuan untuk korban banjir sebaiknya di berikan secara langsung kepada korban banjir, Agar bantuan tersebut dapat sampai kepada yang membutuhkan.
Banjir di daerah itu juga mengakibatkan akses Jl. Haji Ipin menjadi mati total. Kendaraan tidak bisa meleawati jalan tersebut karena banjir, ”Saya aja harus muter komplek AL dulu kalau mau berangkat kerja, abisnya ga bisa lewat sini kan” Kata wanita 26 tahun itu. Dan setelah banjir surut, warga kembali ke rumah masing-masing untuk membersikan tempat tinggal mereka dari lumpur-lumpur yang tersisa di rumah mereka.
Warga sering berupaya untuk mencegah banjir dengan membersikan kali dari sampah-sampah yang menyumbat arus air kali tersebut. Sampah sering menyangkut dan menumpuk di bawah jembatan yang berada di tengah-tengah dua sisi jalan yang menurun itu.
”Suami saya juga sering kerja bakti ko... bersih-bersihin selokan supaya air ga mampet” Kata wanita betawi itu, lalu memanggil ibunya, Maria yang sedang melayani pembeli. Iis yang sedang berdiri di samping pos keamanan sekolah keperawatan itu setia menunggu Ibunya, Maria untuk pulang bersama. Bila sepulang mengajar pukul dua siang, Iis selalu menyempatkan berkunjung ke warung Ibunya yang menjual makanan dan minuman di sekolah keperawatan itu.
Wanita berpakaian hijau itu sedang memperhatikan warung ibunya yang ramai oleh pembeli, dia tampak ceria melihatnya. Sesekali ia tertawa. Iis yang berprofesi sebagai Guru TK juga sedang menjalani masa kuliah pendidikan di UNINDRA, jurusan Bimbingan Konseling dan tinggal satu tahun lagi selesai. Bila ada kesempatan, Iis ingin mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik dengan status PNS sebagai pengajar. Saat ini ia statusnya masih Guru swasta di TK ANGTUA yang di kelola oleh yayasan Angkatan Laut.
Iis bekerja 6 jam dari hari senin sampai saptu, masuk jam 8 dan pulang jam 2 sore. Tidak jarang ia di antar oleh suaminya yang bekerja di MENPERA, ketempat mengajar. Pada saat banjir ia di antar oleh suaminya setiap hari ketempat kerja, Itu karena banjir yang menutup Jl. Haji Ipin dan tidak ada angkutan umum yang bisa lewat daerahnya. Sehingga Iis cukup kesulitan bila ingin berangkat ketempat ia mengajar.
Maria, Ibu Iis juga menjadi kesulitan berdagang dan tidak mendapatkan penghasilan seperti biasanya saat daerahnya di landa banjir. Ia terpaksa menutup dan membereskan barang-barang dagangannya agar tidak terendam banjir. Para siswa keperawatan tersebut juga dipulangkan kerumahya masing-masing dari asrama keperawatan karena sekolah mereka terendam banjir. ”Tapi kalau banjirnya cuma sebates betis, sekolah ga di liburin” kata maria tiba-tiba.
”Iiiiiiiiis....ayo bantuin beres-beres warung, udah sore” teriak maria memanggil anaknya. Wajahnya yang hitam dan terdapat banyak tahi lalat di pipinya, ia terlihat sangat bersemangat dan seorang pekerja keras. Maria mempunyai harapan kepada pemerintah kota untuk membantu menyelesaikan permasalahan banjir yang melanda daerahnya setiap tahunnya. Setiap musim penhujan daerah tersebut mengalami 5 kali banjir dan sangat merugikan warga sekitar kali Grogol tersebut.
Sudut langit sudah terlihat berwarna jingga, dan sekolah keperawatan itu pun sudah sepi dari siswanya. Iis dan ibunnya hampir selsesai membereskan barang-barang dagangan warung, untuk segera pulang bersama.

Penulis Eka Irawan (206.612.021)

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda