BANJIR TAHUNAN
Sore itu, di daerah Pondok Labu tepatnya di Jalan H. Ipin, hari Kamis, (27/11) pukul 15.00 cuaca terlihat mendung dan jalan tampak sepi. Daerah yang sering terjadi banjir setiap tahunnya itu, terlihat sepi dari kendaraan yang sering melewati jalan tersebut. Warga sekitar daerah tersebut juga terlihat sepi.
Di jalan tersebut, banyak rumah warga yang sering terendam banjir jika musim hujan datang. Biasanya musim hujan yang dapat menimbulkan banjir di jalan tersebut sekitar Bulan Agustus sampai Desember. Rumah-rumah warga itu, sering terendam banjir karena di Jalan tersebut terdapat jembatan yang dibawahnya ada kali yang cukup deras aliran airnya. Saat itu, aliran air kali sedang tidak deras atau terlihat tenang. Kali tersebut disebut kali Grogol.
Kali Grogol ini, kira-kira berkedalaman 3 meter dan lebar 5 meter. Tetapi, karena sudah sering terjadi banjir, lebar kali tersebut kini menjadi sekitar 4 meter karena terkikis oleh lumpur. Lumpur-lumpur yang terbawa arus air jika hujan deras datang. Tidak heran jika banjir sering terjadi di jalan tersebut, karena lebar Kali sudah berkurang akibat kikisan lumpur. Kali Grogol itu, akan terlihat sangat surut jika musim kemarau tiba. Bahkan sampai terlihat batu-batu yang ada di kedalaman Kali tersebut.
Aliran air kali Grogol tersebut, dari Ciliwung atau dari Bogor menuju Cinere dan Depok. Banyak sampah-sampah yang tergenang di kali itu. Sampah-sampah tersebut berasal dari warga sekitar itu sendiri. Baik dari warga Jalan H. Ipin itu sendiri, maupun dari warga Komplek AL. Sampah-sampah itu terlihat menumpuk di pinggiran Kali dan dekat kikisan-kikisan lumpur.
Jembatan kali tersebut pernah terendam pada Bulan Februari 2007 pada saat banjir besar dengan ketinggian 3 meter. Pada saat banjir besar tersebut, tembok pembatas Komplek AL rubuh. Baru-baru ini, banjir yang terjadi di Jalan tersebut, hari Senin, (24/11) dengan ketinggian setengah meter.
Jika sudah tiba musim hujan, warga sekitar sudah siap dan selalu waspada terhadap ancaman banjir. Banjir dapat terjadi bukan karena hujan yang sangat deras. Tetapi, hanya gerimis dengan waktu yang lama saja, banjir juga dapat terjadi di Jalan itu. Bahkan, gerimis yang hanya rintik-rintik saja tetapi terlihat deras, dapat menimbulkan banjir.
Genangan air atau banjir yang terjadi, diliputi sampah dan lumpur. Lumpur-lumpur dan sampah-sampah itu menumpuk setiap terjadi banjir. Karena sering terjadi banjir dengan kikisan lumpur dan sampah, Kali tersebut sedikit menjadi daratan.
Di samping jembatan kali tersebut, terdapat Sekolah Akademi Keperawatan yang tidak terlewatkan banjir jika musim hujan datang. Akademi Keperawatan tersebut, terdapat asrama-asrama untuk para siswa. Jika musim hujan dan banjir datang, kegiatan belajar mengajar di Akademi Keperawatan tersebut menjadi sangat terganggu. Biasanya jika terjadi banjir besar, para siswa harus diliburkan. Para siswa juga langsung dipulangkan jika hujan yang turun sangat deras. Walaupun banjir sudah sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar mereka, siswa-siswa Sekolah Akademi Keperawatan tersebut, sudah biasa akan hal itu. Mereka selalu siap dan waspada jika sudah datang musim hujan.
Banjir yang menggenangi jalan itu, sering menimbulkan kemacetan yang cukup panjang. Jika banjir tidak begitu parah, kemacetan panjang kira-kira 100 meter dapat terjadi. Biasanya kemacetan terjadi dari Jembatan Kali tersebut sampai ke pertigaan Matrial. Banyak kendaraan yang masih melewati jalan tersebut, padahal dari Jalan H. Gandun sampai pertigaan Matrial sudah ditutup. Jika banjir parah, kemacetan yang terjadi sampai beberapa ratus meter dan jalan di daerah tersebut benar-benar ditutup oleh warga.
Biasanya, jika banjir merendami rumah warga, mereka mengungsi di rumah warga lain yang tidak terendam banjir. Salah satu warga yang rumahnya sering terendam banjir yaitu Ibu Yuli yang lahir 21 Juli 1981. “Kalau banjir tidak parah, saya tidak ngungsi. Tapi kalau banjir parah, saya ngungsi” kata Ibu Yuli 28 Tahun, salah satu warga sekitar. Warga sekitar lebih memilih untuk tetap di rumah masing-masing jika banjir tidak parah, karena hal tersebut sudah menjadi makanan sehari-hari mereka jika musim hujan. “Sehari sudah surut” kata Ibu Yuli.
Jika terjadi banjir besar dan para korban banyak yang mengungsi, biasanya dibuat posko banjir dan dapur umum mendadak untuk para pengungsi. Semua listrik dipadamkan jika banjir sedang terjadi. Pemadaman listrik tersebut bertujuan tidak ada masalah konslet dari listrik tersebut. Posko banjir dan dapur umum tersebut dibuat di jalan yang lebih tinggi dan tidak terendam banjir. Biasanya posko banjir berfungsi untuk tempat para pengungsi tidur. Dan dapur umum tersebut berfungsi sebagai tempat menerima bantuan yang datang untuk para korban banjir.
Bantuan tersebut dari RT, Polisi Pondok Labu dan Siswa-siswa Al-Izar yang sering diberikan untuk warga korban banjir. Biasanya, bantuan dari RT adalah bantuan dari para warga yang rumahnya tidak terendam banjir atau tidak menjadi korban banjir. Bantuan para warga itu, disalurkan melalui RT untuk selanjutnya diberikan kepada korban banjir. Bantuan tersebut berupa bahan pokok. Bantuan Polisi Pondok Labu berupa keamanan yang menutup jalan dan keamanan untuk kendaraan yang selalu melewati jalan tersebut. Sedangkan bantuan yang diberikan dari Sekolah Al-Izar biasanya berupa makanan seperti Roti, Indomie dan berupa barang seperti selimut. “Bantuan tersebut semua warga dapet” kata Ibu Yuli beranak satu ini.
Jika sudah musim banjir, berbagai penyakit cepat menyerang. Warga Jalan H. Ipin dapat rentan terserang penyakit jika musim banjir tiba. Apalagi, banjir yang sering terjadi di jalan tersebut bercampur dengan lumpur dan sampah-sampah. Hal itu sangat membahayakan untuk para korban banjir yang rentan akan terserang penyakit. Apalagi, banyak anak-anak kecil yang tinggal di jalan tersebut atau warga Jalan H. Ipin itu. “Tetapi belum pernah ada yang terserang penyakit parah” kata Ibu Yuli tersenyum. “Paling cuma penyakit gatel-gatel di kaki” kata Ibu Yuli lagi.
Tidak ada penanggulangan yang serius dari RT dan RW untuk penanganan banjir di daerah itu. “Tidak ditanggapi” kata Ibu Yuli. “Udah makanan sehari-hari kalo musim hujan” katanya Ibu Yuli lagi. Lagipula jika ingin memperlebar Kali itu lagi, sudah sangat sulit. Kali tersebut sudah menjadi daratan karena kikisan-kikisan lumpur. Dan seharusnya warga di Jalan H. Ipin dan sekitarnya, mulai menyadari untuk tidak membuang sampah di Kali. Karena hal itu dapat menyebabkan banjir yang akan terjadi di rumah-rumah warga itu sendiri.
Nama : Miky Anjarsari
NRP : 206.612.036
Jurnalistik

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda