LEBIH DEKAT DENGAN HARIMAU BENGGALA
LEBIH DEKAT DENGAN HARIMAU BENGGALA
Dua Harimau Benggala sedang asik bermain. Dengan statusnya yang langka menjadikan harimau itu sangat diperhatikan dan dijaga keberadaanya di Taman Margasatwa Ragunan.
Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, 3 November 2008, 13.30 WIB. Pemandangan disana menghantarkan kesejukan dengan hamparan rumput dan pohon-pohon yang berdiri kokoh. Saat itu, cuaca di sekitar tempat wisata dalam keadaan mendung yang menjadikan suasana disana begitu tenang. Tidak banyak pengunjung disana yang terlihat.
Di Penangkaran Harimau Benggala tepatnya, saat itu gerimis pun turun. Letak penagkaran yang cukup jauh dari pintu utama dan pada saat itu juga bukan hari libur menjadikan penagkaran Harimau Benggala tersebut sepi akan pengunjung. Terlihat empat orang laki-laki disana. Diantara empat orang itu, dua diantaranya merupakan perawat Harimau Benggala di penakaran itu. Herman Jumadi dan Supri nama laki-laki itu. Dua suara raungan Harimau Benggala terdengar keras. Menurut perawat itu, memang jam pada saat ini mendekati jam makan Harimau Benggala yaitu pukul 15.00. Sang perawat pun mendekati penagkaran itu, dengan memanggil-manggil salah satu nama dari harimau benggala tersebut. ”Robin, Robin, Robin,” Teriaknya. Harimau itu pun menghampirinya. Mereka memang dekat karena memang dua harimau tersebut dirawat olehnya.
Dengan luas penangkaran yang kira-kira 200 meter, harimau-harimau itu pun bermain dengan gerak kaki yang lincah dan saling berkejaran. Di tengah penagkaran itu terlihat pohon sengon tinggi yang kokoh berdiri, dikelilingi dengan rumput-rumput yang terlihat sudah mulai lebat sehingga menjadikan penagkaran tersebut terlihat agak semak belukar dan kumuh. Menurut perawat memang belum sempat dipangkas dan musim hujan pun sudah mulai datang sehingga cepat memacu pertumbuhan rumput-rumput tersebut.
Robin dan Avatar merupakan nama kedua Harimau Benggala jantan itu. Dengan umurnya yang kurang lebih satu tahun, tubuh harimau-harimau itu terlihat sangat besar dan kekar. Kira-kira 150 kilogram beratnya. Harimau Benggala berasal dari India, kelas mamalia dari suku felidae. Sebagai hewan karnivora, Robin dan Avatar sore itu menyantap daging ayam yang memang baru saja disembelih oleh salah satu perawatnya, Herman Jumadi. Mereka bersaing untuk mendapat daging ayam tersebut. Mereka hanya diberi makan satu kali dalam sehari. Menurut Herman, ayam tersebut merupakan makanan tambahan saja untuk Robin dan Avatar dan tidak setiap hari diberikan.
Setelah menyantap makanannya, Robin dan Avatar mulai bermain lagi. Sesekali mereka masuk ke dalam ruangan yang ada di belakang penagkaran tersebut. Terdapat 9 ruangan disana. Ada 8 ekor benggala yang tinggal disana. Ruangan itu masing-masing seluas 4 x 4 meter yang berfungsi sebagai tempat istirahat harimau benggala. Dari 9 ruangan itu terdapat 1 ruangan yang berfungsi sebagai tempat dimana jika ada Benggala yang sakit atau melahirkan. Pada masing-masing ruangan tersebut terdapat sebuah meja yang digunakan sebagai tempat tidur Benggala. Di dekat ruangan-ruangan tersebut yang saling disekat terlihat tumpukan daging di tutup plastik putih bening yang memang khusus untuk di santap oleh si Bengala. ”Daging itu daging sapi dan kambing,” Ucap Herman. Menurut laki-laki 31 tahun itu, daging yang paling Harimau Benggala suka adalah daging babi. Selain daging yang menjadi makanan sehari-harinya, Benggala diberi suplemen khusus untuk menunjang pertumbuhan dan kesehatannya. ”Saya kasih suplemen buat si benggala yaitu vitamin C dan vitamin B kompleks setiap dua bulan sekali,”Ungkap laki-laki berseragam itu sambil menghisap rokoknya. Herman menambahkan bahwa setiap bulan, budget yang harus dikeluarkan Taman margasatwa Ragunan untuk makanan dan lain-lain kurang lebih sebesar Rp.12 juta per ekor.
Di dekat tepi penagkaran terdapat kolam air yang berfungsi sebagai pengaman dan pemberat agar si Benggala tidak mudah loncat ke atas dinding tepi yang mengelilingi penangkaran. Kolam itu terlihat sangat kotor dan dipenuhi dengan lumpur. Tinggi dari dasar kolam tersebut sampai dinding tepi atas adalah 1 meter. Melihat Robin dan Avatar sangat menakjubkan terlihat mereka sangat akrab dengan Herman, sang perawat. Robin dan Avatar berasal dari induk Benggala putih jantan dan Benggala merah betina yang bernama Sultan dan Wengga. Penagkaran induk tersebut tidak jauh dari penagkaran Robin dan Avatar. Menurut Herman, jika Harimau Benggala dikawinkan dengan yang sejenis atau berbeda indukan maka anak yang dilahirkan tidak baik atau disebut dengan imbriding. Akibatnya anakannya tidak bisa gemuk dan umurnya pendek.
Di tengah-tengah penagkaran terdapat kayu yang sengaja dibuat dan disusun untuk para Benggala bermain. Terlihat Robin dan Avatar naik ke kayu tersebut dan duduk diatas kayu itu. Sesekali mereka mengaung. Robin dan Avatar dapat dilihat perbedaannya pada warna corak belangnya yang terdapat di perutnya. Tetapi untuk orang awam memang agak susah untuk melihat perbedaannya.
Di balik pagar yang terlihat usang dan berkarat, Robin dan Avatar menghabiskan waktunya disana. Dengan dua perawatnya yang sabar dan sayang dengannya menjadikan benggala-benggala itu terlihat penurut. Menurut sang perawat, Robin dan Avatar tidak pernah bertengkar. “Benggala biasanya akan sering bertengkar pada usia empat tahun dikarenakan sudah mulai puber,” Ungkap Herman, lelaki lulusan S1 Komputer itu. Herman dan Supri telah merawat dua Benggala itu sejak Robin dan Avatar baru lahir. Robin dan Avatar juga merupakan nama pemberian dari kedua laki-laki itu. Herman dan supri akan mengabdikan hidupnya untuk merawat Harimau-harimau Benggala itu karena memang mereka menyayangi binatang. Dengan statusnya yang langka, pihak Taman Margasatwa Ragunan pun selalu memperhatikan kesehatan dan perkembangan harimau-harimau benggala disana.
Waktu menunjukkan pukul 15.00, Robin dan Avatar sudah harus masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempat istirahat mereka dan pada saat itu juga merupakan jam makan harimau-harimau benggala disana. Cuaca yang memang pada saat itu tidak bersahabat menjadikan suasana disekitar penagkaran teramat sepi.
Penulis : Dieta Kusumaningtyas (206.612.127)
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda