Hartati
206.612.154
Sehari di Ragunan, bersama Robin dan Avatar
Hari senin, ragunan seperti hutan belantara yang indah. Hanya ditemani oleh suara-suara binatang yang sesekali terdengar dan keadaan Pengunjung yang tak sepadat bila di akhir pekan, mereka nampak sedang asyik mengunjungi setiap kandang para hewan itu. Rata-rata pengunjung datang dari kalangan pelajar, gandeng menggandeng tangan serta rangkulan sesekali terlihat.
Dan sepertinya kawasan ragunan merupakan tempat yang asyik untuk memadu kasih, dilihat dari harga tiket yang relatif terjangkau bagi semua kalangan, dan didukung oleh suasana ragunan yang lengang menjadi sebuah alternatif untuk sebuah refreshing cinta bersama sang pujaan.
Suasana semakin indah saat kami menyisir setiap kandang hewan yang kami jumpai, namun ada terbesit rasa miris sekaligus iba menyelimuti relung hati. contohnya ketika saya mengunjungi kandang gajah disana hanya ada seekor gajah tua yang berjenis kelamin laki-laki. Dikandangnya itu, hanya terdiri sebuah kandang yang berfungsi untuk memasukan sang gajah apabila waktu kunjungan telah habis. Sepertinya dia perlu seekor gajah lagi untuk menemani hari-harinya, karena setiap tindak tanduknya seperti seekor gajah yang menjalani kesunyian hari tanpa ada yang menemani.
Kadang kala dia seperti menyerudukan kepalanya kepada kandang gajah yang disebelahnya diiringi suara gajah yang terdengar seperti menyayat hati. Seakan-akan mengisyaratkan bahwa dia seperti ingin berkumpul bersama. Dan saya pun seperti berandai, ingin rasanya mendobrak penghalang antara sang gajah dengan keluarganya, agar ia tidak merasa kesunyian lagi dan merasakan kehidupan meskipun dengan jalan di pertontonkan oleh para pengunjung dibalik sebuah kandang.
Lepas dari kandang sang gajah, kami pun menyusuri lagi sebuah kandang bersama teman-teman jurusan jurnalistik dari kampus kebanggan ku yaitu Universitas Pembangunan Veteran ”jakarta”. Kaki-kaki kami kembali menyusuri sebuah kandang yang terletak sangat terpencil, yaitu kandang sebuah harimau benggala yang berasal dari India, yang penyebarannya dimulai dari sungai indus di Pakistan dan menyebar ke irrwodi dan Birma bagian barat.
Jenis harimau ini termasuk jenis yang langka makanya sangat dilindungi. Kandang yang kelilingi oleh pohon-pohon besar serta ilalang-ilalang yang tumbuh, semakin menambah kesan sunyi yang menyergap, apalagi ketika kami mendengar auman yang bersumber dari kandang, semakin membuat kami terkesan oleh suara auman nya yang memecah kesunyian di tempat itu. Ketika kami tengok ternyata Kandang itu dihuni oleh dua makhluk harimau jantan berusia satu tahun bernama Robin dan Avatar yang lahir pada bulan juli 2007.
Cara untuk membedakannya ternyata sulit-sulit gampang, karena untuk masyarakat awam yang tidak pernah bersentuhan langsung terlihat tidak ada yang berbeda dari kedua harimau tersebut, namun untuk membedakannya kita harus benar-benar jeli, caranya dengan melihat garis putih yang berada di perut sang harimau, ia adalah si Robin saudara kandung si Avatar.
Dan ternyata untuk membedakan lagi jenis harimau benggala dengan harimau putih kita cukup melihatnya dengan warna loreng yang menghiasi tubuh sang harimau, namun untuk membedakan mana harimau sumatra dengan benggala kita bisa membedakannya dengan melihat postur tubuh, karena harimau benggala ukuran tubuhnya lebih besar dari pada harimau sumatra.
Kandang hewan itu berpagarkan pembatas besi, yang sudah karatan dengan cat yang agak mengelupas, dengan tempok coran yang berbahan baku batu kali. Luas kandang tersebut sekitar 200 m², dengan tinggi pagar pembatasnya sekitar 3 m. Di dalam kandang tersebut di hiasi oleh sebuah pohon sengon besar yang sudah berusia puluhan tahun, dengan daunnya yang menjuntai, serta ilalang-ilalang yang tumbuh menambah kesan seperti habitat aslinya. Kemudian di dalamnya terdapat kubangan air yang berwarna hijau karena bercampur dengan lumut.
Diluar pagar kandang itu, seorang petugas kebun binatang yang bernama pak Supri dan pak Herman Jumadi sibuk menjelaskan kepada kami mengenai hewan ini, kemudian salah seorang itu berdiri dan memperlihatkan kepada kami cara memanggil binatang tersebut, ”bin, ayo sini” ujarnya, kemudian terdengar suara robin mengaum. Terlihat sekali bahwa hewan tersebut seperti sudah akrab dengan”sang pawang”, maklum ketika lahir dari sang induk, bayi harimau tersebut langsung diasuh oleh penjaga kebun binatang, tak heran bukan apabila terlihat adanya keakraban yang terjalin.
Untuk urusan memberi makanpun bapak yang biasa di panggil pak herman itu memberi penjelasan bahwa satu ekor harimau diberi makan daging sekitar lima kilo per harinya. terbukti ketika pak herman melemparkan masing-masing satu ayam negeri, kedua hewan tersebut langsung menyergap dan memakannya dengan sangat lahap diikuti oleh sebuah suara yang terdengar dari masing-masing mulut harimau dengan maksud agar tidak direbut.
Ciri-ciri seekor harimau bila sedang terancam maupun terganggu adalah mereka akan merendahkan badan mereka, dengan mata menatap tajam kearah musuh dengan maksud menakut-nakuti lawannya. Hal tersebut pun mungkin akan berlaku bagi keduanya jika mereka sudah menginjak usia empat tahun. Karena di usia tersebut mereka seperti dalam masa transisi mencari jatidiri, untuk itu kandang mereka harus dipisahkan. Kalau tidak mungkin setiap hari mereka akan saling cakar-mencakar.
Hari telah menjelang sore, sang raja siang pun telah memancarkan sinarnya yang berwarna ke oren-orenan, tanda sang siang harus digantikan oleh sang senja yang dikit lagi akan menjelang.
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda